Kabupaten Bogor - Teras Cigudeg adalah Media Komunikasi Komunitas Tanah Impian di Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor

Wanita Cantik di Mata Pria

Wanita Cantik di Mata Pria
Wanita-wanita Berparas Menawan Hati

News

Back to Kabupaten Bogor

Apa Bedanya Politisi Negarawan dan Politisi Politikus

Cigudeg, (TerasCigudeg) - Mungkin Sobat akan bertanya? Apakah ada perbedaan, antara Politisi Politikus dengan Politisi Negarawan? Keduanya khan sama-sama Politisi.

Sepintas memang tidak ada bedanya, sama-sama ingin merebut kekuasaan...

Berjuang membangun Bangsa Indonesia, tidak harus melalui karir menjadi “Politisi Politikus”, yang jalannya, hanya melalui lembaga-lembaga politik yang sudah dikuasi oleh politisi-politisi yang mapan dan tetap berjuang demi kekuasaannya semata.

Seorang pencari kekuasaan (Politisi), seyogyanya mempunyai cita-cita, bahwa kekuasaan yang dicapainya kelak, menjadi alat untuk membangun Bangsa-nya sendiri, bukan bangsanya orang lain – seperti sekarang ini – Freeport contohnya (red - Peninggalan Politisi Busuk - Politikus Masa Lalu).
Sementara Politisi Politikus yang ada saat ini, mereka hanya ingin mempertahankan eksistensinya dalam kelihaiannya mamanajemeni kondisi yang chaos. Ibarat orang sedang bermain selancar, jika gagal sampai di tepi, ia pun kembali terombang-ambing dalam kekacauan itu sendiri.

Kita tahu sekarang ini, Politisi Politikus hanya untuk gaya-gayaan, tidak mengena pada eksistensi peran yang seyogyanya diterapkan untuk Bangsa ini.

Oleh karenanya saya membedakan secara dikotomi, antara “Politisi Politikus” (Kucing yang jadi Politisi) dengan “Politisi Negarawan” (Anjing yang jadi Politisi)

Kondisi sekarang ini memang ibarat tembok besar yang ada didepan kita, hal ini mengingat Negara-negara Barat dan Negara-negara Timur Tengah yang sudah lebih solid, bekerja sama dengan penghianat-penghianat Bangsa ini, untuk mengombang-ambingkan ombak yang sedang dipakai selancar oleh Politisi Politikus WNI itu sendiri.

Politisi Politikus yang bermain selancar pun, dengan serta merta riang gembira, ketika jatuh dari “papan selancar-nya”, karena mereka tahu bahwa yang membuat ombak tersebut adalah teman-temannya sendiri. Begitulah seorang Politisi Politikus melihat dua kekuatan tersebut di atas, sebagai kawan.

Mengapa sebagai kawan, karena seorang penghianat melihat bangsanya sendiri adalah musuh utamanya.

Kiranya sudah cukup diskripsi tentang Politisi Politikus tersebut. Sekarang apa konkritnya???

Tembok besar tidak dapat dilawan dengan kekuatan senjata jadul. Kini saatnya kita menggunakan kekuatan akar rumput. Kita punya budaya “Kearifan Lokal”, semua nilai-nilai lokal, tidak terlepas dari pola hidup, pola makan dan makanan yang dimakan, hingga hiburan yang akan kita nikmati.

Kekayaan kita yang berupa fisik, sudah lama dirampok. Sementara, kekayaan kita yang berupa non-fisik, seperti kebudayaan, sudah lama pula dilunturkan oleh kedua kekuatan tersebut di atas.

Jadilah Politisi Negarawan, berjuang tidak harus dari partai, atau jalur politik lainnya. Berikan pembelajaran bagi sekeliling kita, bahwa kita harus mempertahankan segala kekayaan Bangsa ini.

Bagaimana caranya?

Kita bisa belajar sendiri mengenai "Kearifan Lokal" Bangsa kita, bukan nilai-nilai Barat atau Timur Tengah yang dibungkus, seolah-seolah menjadi kebiasaan kita di masa sekarang ini.

Sapto Satrio Mulyo | Foto : Istimewa | Semoga Bermanfaat

Ini Buktinya NKRI Pancasila UUD'45 Harga Mati

Cigudeg, (TerasCigudeg) - Danjen Kopassus Mayjen Madsuni menyematkan Brevet Kehormatan Korp Kopassus kepada Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi dengan upacara militer. Proses penyematan di Pusdiklat Kopassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat (15/2).

Hadir dalam Upacara penyematan Brevet Kopassus diantaranya Kasad Jenderal TNI Mulyono, para pejabat utama Mabesad dan pejabat Mabesal, para Pangkotama, serta ribuan prajurit Kopassus.

Laksamana Ade Supandi menuturkan bahwa dirinya sangat bangga berada di tengah tengah prajurit Korps Baret Merah yang merupakan prajurit pilihan dimana setiap penugasan operasi tidak pernah mengecewakan dan selalu berhasil membangun citra posistif di mata rakyat.

“Saya melihat ciri khas yang membedakan prajurit Kopassus dengan prajurit lainnya, yaitu disamping medan tugas yang spesifik, juga kebanggaan yang tidak pernah luntur ataupun diterpa oleh gelombang perubahanan lingkungan masyarakat," kata Laksamana Ade Supandi.

" Pengorbanan Kopassus ini tercermin pada arti lambang Brevet Komando yang merupakan kombinasi dari bentuk pisau komando dan jangkar di atas dasar suatu kobaran nyala api ini melambangkan bahwa prajurit komando memiliki keberanian, kecekatan, dan ketrampilan yang mencakup kemampuan di bidang operasi rakyat, udara dan kemaritiman.," jelas Kasal

Ditambahkan Laksamana Ade, brevet komando merupakan tanda kemahiran atau kualifikasi yang diberikan oleh Korps atau angkatan kepada seseorang atas usaha dan jerih payahnya dalam mengikuti pendidikan dan latihan pada bidang  atau spesalisasi tertentu.

" Oleh karena itu dengan brevet ini semoga lebih dapat memotivasi saya dalam melaksanakan tugas, tanggung jawab dan pengabdian kepada TNI, bangsa dan negara dengan lebih baik lagi di masa mendatang,” sambungnya.

Laksamana Ade Supandi mengucapkan rasa terimaksihnya kepada Danjen Kopassus serta seluruh Prajurit Kopassus dimanapun berada yang telah mempercayakan dirinya memakai brevet kehormatan ini. (AB) | Foto: PenKopassus | Sumber

Wanita Cerdas Hormati Pria Berpengetahuan Luas

Wanita Cerdas Hormati Pria Berpengetahuan Luas
Jendela Nusantara

Proud to be Indonesia

Proud to be Indonesia
Back to Local Wisdom
Back To Top